Menjelang sore di
ruang kerja seorang pejabat Pemkab Sidoarjo. Sang pejabat duduk di kursinya.
Tangan kanannya memegang Hp. Tubuhnya ia sandarkan ke belakang. Ia terlihat
sedang santai berbincang dengan seseorang.
Sedangkan aku dan dua orang rekan
wartawan lainnya duduk di sofa yang tersedia di ruang kerja itu. Mata kami
asyik memelototi siaran berita yang disajikan TVRI sembari menikmati makanan
kecil yang disediakan sang tuan rumah. Lalu kami pun ngobrol ngalor-ngidul,
membicarakan isu yang lagi hangat terjadi di belantara internasional, nasional
hingga ke level lokal Sidoarjo-an.
“Pean eruh ta baliho’e bupati,
Kapolres, Kajati ambek Dandim sing dipasang nang prapatan Babalayar iku ta,
Cak,” tanyaku pada salah seorang rekan wartawan. Kontan iapun menjawab. “Wah
gak nang kono thok baliho’ne. Nang endi-endi yo dipasang,” ucapnya.
Lalu teman satunya lagi menimpali.
“Lha iyo temen omongan iku. Jarene kate mbangun bangsa dengan kejujuran. Sing
endine sing jujur. Sopo sing jujur,” ucap teman tadi sambil mencibir sinis.
Aku pun tak mau kalah. “Lha iyo,
masyarakat saiki wis pinter-pinter. Gak isok mereka dibohongi ambek
kalimat-kalimat retorika koyok ngono iku. Masyarakat wis eruh kok yok opo
kelakuane pemerintah, termasuk aparat hukum’e,” kataku.
Komentar senada pun saling
bersahut-sahutan dari setiap mulut yang ada di ruangan itu. Sedangkan si
pejabat tetap saja asyik menelepon. Malah seakan-akan nada bicaranya semakin
gayeng.
“Lha iyo, kalau semua pejabat nang
Indonesia iki jujur temenan, gak mungkin Indonesia mlarat koyok ngene. Semua
orang pasti sugih karena kerjanya enak. Negara tambah makmur karena APBNnya dipakai
membangun bangsa,” ucap salah seorang teman.
“Buktine lak gak koyok ngono ta. Yo
tetap mbangun sih, tapi sak piro akeh’e duit sing digawe mbangun iku? Sik luwih
akeh duit sing dientit poro pejabat. Lha nek kene carane, yok opo carane negoro
isok maju. Sik tas rodok enak thitik ae wis kenek krisis ekonomi global maneh. Gak
tambah makmur malah tambah ajur negoro iki,” seru yang lain.
“Mangkokno iku,” lanjutku. “Mestinya
wis gak perlu ngetokno uang banyak buat bikin baliho koyok ngono iku, percuma. Yang
paling pas itu, ya dilakukan saja. Nanti rakyat lak eruh dewe. Kalau
pemimpinnya iso jujur temenan, rakyat’e yo ikut jujur. Lha kalau pimpinannya doyan
nggedabrus, yo kabeh melok-melok nggedabrus,” kataku.
Tiba-tiba sang pejabat bangkit dari
tempat duduknya. Ia menghampiri kami. Tangan kanannya langsung mengambil dompet
dari saku belakang celananya. Cepat ia keluarkan beberapa lembar uang Rp 50
ribuan.
“Termasuk koen-koen iki yo melok
nggedabrus pisan. Iki lho duit, gelem opo enggak? Tapi tak kandani yo, duit iki
asal’e yo teko entit-entitan sing mbok omongmo mau,” tantangnya. Dan,
ha...ha...ha..., tawa kami pun pecah seketika.
(Pak
Di - termuat di Tabloid Headline)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar