Jumat, 21 Februari 2014

IKUTI SAYA

Warung kopi di samping Lapas Darjo ini benar-benar menyimpan aura yang sangat dasyat. Buktinya setiap kali cangkruk disana, aku selalu nemu inspirasi untuk membuat tulisan yang akhirnya terpampang di sini. Yang jelas bukan warungnya yang malati, tapi omongan teman-teman secangkrukan yang pating cluet itulah yang bak sumur informasi.
            Seperti beberapa waktu lalu, setelah bicara ngedabrus dan saling gojlok antar teman, pembicaraan kamipun terfokus pada kebijakan-kebijakan pemerintah. Ada seorang teman yang bilang, sentral kekuasaan selalu berubah arah di setiap era pemerintahan.
            Ia bilang, di jaman orde baru lalu, kekuasaan berada sepenuhnya di tangan eksekutif. Saking berkuasanya sampai-sampai yang namanya pimpinan eksekutif bisa menentukan orang-orang yang akan duduk di legislatif.
            Jangan tanya masalah hukum. Karena kibasan pedang sang peri keadilan pada saat itu benar-benar berada pada kendali sang eksekutif. Pokoknya hampir semua lini dikuasai. Akibatnya korupsi pun menjadi-jadi meski tak sampai muncul di permukaan karena pers dan LSM hanyalah menjadi jangkep-jangkepan saja.
            Di awal era reformasi, berhembuslah wind of change. Tongkat komando berpindah tangan ke legislatif. Kumpulan orang-orang di kantor dewan itu menjelma jadi dewa. Eksekutif jadi tak berdaya. Mereka dijadikan buruh pemerahan, sedangkan sapinya tetap rakyat.
            Untungnya ‘Kala Mangsa’ itu tak berlangsung lama. Berikutnya giliran yudikatif yang berkuasa penuh. Pejabat korup dan anggota legislatif di semua level yang hobi ngutil uang rakyat disikat habis.
            Tapi itupun bukan berarti supremasi hukum sudah benar-benar berdiri tegak menjejak bumi pertiwi. Karena justru merekalah yang jadi virus baru. Saking parahnya, sampai-sampai di masa Abdul Rahman Saleh menjadi jaksa Agung dulu, DPR malah sempat menyebut institusi Kejaksaan sebagai Kampung Maling.
            Omongan itu memang sempat mengundang kemarahan, namun akhirnya tudingan itu terbukti dengan tertangkapnya Jaksa Urip yang memperjualbelikan hukum. Selanjutnya bola salju itupun mengenlinding kemana-mana.
            Hanya saja gelindingan itu masih bisa disetir arahnya, persis permainan kolas neker di pasar malem jaman dulu. Pejabat-pejabat yang sudah nggak bisa ditoto sajalah yang yang dilindas. Sedangkan pejabat yang masih loman atau ada kepentingan tertentu tetap dibiarkan bernafas lega.
            “Itu tandanya yang namanya korupsi sudah terstruktur dan tersistem di negeri ini. Lha iyo koq bisa gitu ya,” ujar seorang teman yang sehari-hari berprofesi sebagai penyiar sekaligus wartawan radio.
            Terus seorang lainnya menimpali. Katanya, “Soalnya pejabat-pejabat nang Indonesia ia salah sumpah. Coba rungokno ta, kalau ada yang pelantikan, si pemimpin pasti para pejabat baru mengucapkan sumpah jabatan. Nah kalimat pertama yang diucapkan sang pemimpin itu adalah ‘ikuti saya’. Mangkakno iku kalau pimpinannya korup, para pejabat baru itu akan ikut-ikutan jadi korup seperti pemimpinnya. Begitu seterusnya sampai sekarang ini.”
            “Terus bagaimana kalau pimpinannya jujur?” tanya teman yang lain. “Pejabat yang baru dilantik yo gak ngomong, cumak nggremeng thok, supaya kebiasaan korupsi itu bisa dilestarikan.”
            Seorang PNS yang menjadi komunitas cangkruk disitu akhirnya ikut angkat bicara. “Kalau nanti aku jadi pejabat dan nglantik bawahanku, aku gak ngomong ikuti saya, tapi mari baca bersama. Dadi kalau ada yang korupsi aku gak sampek dieret-eret,” ujarnya.

(Termuat di Tabloid Headline)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar