Aku duduk di
sudut kedai di salah satu mall megah di Surabaya. Sudah lama aku menunggu,
hampir satu jam. Tapi mereka belum juga muncul. Hari itu aku akan mengadakan
pembicaraan bisnis kecil-kecilan.
Seorang teman akan mengenalkanku dengan seorang rekannya. Katanya ia
membutuhkan tenaga dan pikiranku untuk perusahaan media massa yang akan mereka
buat bersama.
Setelah sekian lama akhirnya mereka datang juga. Setelah berbasa-basi
sejenak, pembicaraan kami langsung mengarah pada topik yang telah direncanakan
sebelumnya. Rupanya sang investor tadi mengaku sibuk, sehingga ia tak punya
banyak waktu untuk duduk santai.
Okelah. Kamipun langsung berbincang serius. Percakapan pun berakhir dengan
sebuah kesepakatan. Katanya, akan ada pembicaraan selanjutnya setelah aku
menyodorkan konsep tertulis pola pemberitaan yang kusampaikan padanya. Selesai.
Meski begitu kami tak keburu bubar. Masih ada secangkir kopi dan sepotong
croisant yang harus dihabiskan. Sayang kalau ditinggal begitu saja. Selain
rasanya yang cukup enak, harganya juga terbilang mahal untuk ukuran kantongku.
Saat itulah, temanku membuka pembicaraan. “Gimana soal calon Presiden.
Kayaknya bakal rame nih. Rasanya SBY tidak akan bisa menang mudah. Ia harus
kerja keras dulu,” katanya.
Apalagi, tambahnya, sekarang ini hampir semua pasangan calon Presiden yang
tampil sudah mulai melakukan pendekatan pada masyarakat dengan caranya
sendiri-sendiri. Mereka saling tebar pesona untuk berusaha mendulang suara
dukungan sebanyak-banyaknya.
Rupanya sang investor tadi mulai tertarik dengan topik pembicaraan itu. Ia
langsung menyahut. Katanya, kalau pas ada agenda politik semacam itu, rakyat
kecil seakan menjadi primadona.
Mereka diberi janji-janji manis karena dianggap sebagai anak bangsa yang
menderita sehingga harkat, martabat dan derajat hidupnya harus diangkat ke
level tertinggi yang bisa dicapai.
Disisi lain, para aktor politik itu mengkambinghitamkan para pengusaha
terutama dari etnis Cina sebagai biang keterpurukan perekonomian masyarakat.
Mereka dianggap sebagai sekelompok orang yang telah merampok kesejahteraan
rakyat dengan cara-cara kotor.
“Ngenes rasanya kalau ndenger omongannya caleg, calon presiden atau calon
walikota dan bupati itu. Kita orang dijelek-jelekno terus. Kayak’e awak dewe
ini yang bikin rakyat jadi miskin,” ujarnya dengan nada sinis.
Padahal faktanya, para calon pejabat itu justru datang pada mereka.
Tujuannya hanya satu, minta bantuan dana untuk mendukung kegiatan kampanye
mereka. Cara mintanya pun macam-macam. Ada yang merayu dengan janji-janji
manis. Dan ada pula yang memaksa lantaran si calon masih menjadi penguasa.
“Siapa bilang jadi orang kaya itu enak. Coba pikiren ta. Kami ini sudah
dipajek’i, eh malah dielek-elekno kalau pas kampanye. Itu namanya khan kurang
ajar. Tapi awak dewe bisa apa? Mau protes juga nggak mungkin. Paling-paling ya
cumak bisa ngelus dodo,” tambahnya.
Kondisi ini jelas berbeda dengan era orde baru lalu. Katanya waktu itu
mereka lebih diajeni. Setidaknya walaupun menjadi target ‘operasi bathok’
penguasa, tapi mereka tidak perlu dijadikan isu kampanye.
“Dan yang pasti kompensasinya jelas. Begitu orang yang minta uang ke kami
itu benar-benar jadi pejabat. Ia pun langsung ingat kami waktu mau bagi-bagi
proyek. Cincai-cincai lancar lah. Ndak seperti ini, mbojai kabeh,” ujarnya
ketus.
(Termuat di Tabloid Headline)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar