Sudah beberapa
kali koran lawas itu ia bolak-balik. Ditutup terus dibuka lagi, begitu
berkali-kali. Tapi sepertinya Pak Min belum menemukan berita yang dicarinya. “Peno
iku nggolek’i opo ?,” tanyaku.
“Berita olahraga Pak. Mbok menawi
wonten tulisan soal Uston, Taji utowo Haryono. Niku lak lare mriki sih Pak,”
ujarnya tanpa memandangku. Matanya terus tertuju ke kertas koran yang sudah
lusuh itu.
“Yo gak onok Pak. Wong iku koran
lawas,” jawabku singkat. Kali ini ia mulai putus asa. “Nggih mboten wonten,
Pak,” katanya lagi. Koran itu ia lipat sebagaimana asalnya. Lalu ia letakkan di
depannya.
Sejenak kami saling terdiam. Aku
menikmati hembusan demi hembusan nafas bercampur asap rokok dari rongga mulutku
sembari menulis di kuitansi pembayaran gajinya. Sementara Pak Min hanya duduk
tanpa kata. Ia memang pendiam, tak banyak bicara.
Tiba-tiba HP-ku berdering. Rupanya
salah seorang teman meneleponku. Ia tanya apakah semua surat suara Pilcaleg
beberapa hari lalu sudah selesai dihitung KPUD. “Durung Cak, paling sesuk ket
mari,” kataku pada teman di seberang telepon tadi. “Engkuk nek wis mari kuabeh,
pean tak kabari.”
Pembicaraanku tadi ternyata
memancing Pak Min. Ia pun mendongakkan kepalanya. “Sios’e sing menang sinten
Pak?,” tanyanya perlahan. Aku pun menjawab bahwa Demokrat yang menang.
Rupanya meski terkesan pendiam, Pak
Min cukup tertarik dengan topik politik. Tanpa diperintah ia pun nyerocos soal
getolnya warga di sekitar rumahnya untuk mencontreng tanda gambar partai
Demokrat.
Orang-orang itu bilang padanya kalau
Demokrat adalah partainya SBY yang telah berbaik hati memberi wong cilik BLT,
beras Raskin dan sekolah gratis. Jadi kalau ingin semua ‘sedekah’ itu tetap
diberikan hingga lima tahun kedepan, maka mereka harus memilih Demokrat.
“Tapi kulo mboten setuju kale
omongan niku. Soal’e lak mboten cumak SBY thok sing ndamel aturan niku. Wong
wakil’e tiyang Golkar, Menterinya nggih wonten sing saking PAN utowo PKS.
Berarti niku lak jalarane tiyang kathah,” ujarnya.
Sekilas aku memuji pengetahuannya.
Walau terlihat lugu ternyata Pak Min bukan orang yang awam dengan urusan politik.
“Tapi lak tetep opo jare Presidene,” aku coba terus memancing kapasitas frame
of reference-nya.
Tetap dengan gaya bicaranya yang
kalem, tanpa penekanan, ia kembali bersuara. Katanya, sekarang ini Demokrat
sudah mulai serakah. Partai ini ngiler dengan kekuasaan. Bahkan jika perlu
mereka ingin menggengam kekuasaan secara absolut.
“DPR’e wong Demokrat thok.
Gubernur’e nggih saking Demokrat. Terus Presiden’e mengke malah pimpinane
Demokrat. Mosok sesuk bupati mriki yo tiyang Demokrat pisan, pak,” katanya.
Kujawab bahwa semuanya itu bisa saja
terjadi. Karena politik memang mengharamkan kekuasaan yang setengah-setengah.
Sapu bersih atau kompromi merupakan opsi yang harus dipilih. Kalaupun
kedua-duanya tak bisa diraih, maka pilihan terakhirnya adalah menjadi oposisi.
“Ueco nek ngoten Pak. Korupsi siji
yo korupsi kuabeh. Aman. Wong kuabeh’e tiyang’e dewe. Wis unthal-unthalen
kuabeh jabatane. Sing bejat nggih panggah rakyate kados kulo niki. Tambah
remuk. Awet kere,” kali ini nada bicaranya agak meninggi.
Aku jadi berpikir. Sepertinya Pak
Min begitu anti dengan Demokrat dan SBY. Aku jadi menebak-nebak. Orang semacam
dia, kalau bukan PDIP pasti simpatisan PKB. Atau kalaupun mbleset, paling ia
menyeberang ke PKNU.
Daripada jadi misteri, aku nekad bertanya padanya. “Sakjane, peno iku milih
opo sih?.” Tetap dengan air muka tenang ia kontan menjawab, “Demokrat.”
Lho... Sepertinya ia melihat ada
tanda tanya besar di atas kepalaku meski untaian kata tak sampai tersirat. “Lha
kulo wedi mboten angsal BLT maleh. Lumayan saget damel nempur.”
(Termuat di Tabloid Headline)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar