Oleh kelicikan
Sengkuni, Pandawa dijebak. Lima orang bersaudara itu diajak main dadu lawan
Wangsa Kurawa. Untuk persahabatan, katanya. Namun dalam perjalanan berikutnya,
mereka pun mulai memasang taruhan.
Awalnya hanya harta yang
dipertaruhkan. Angin segar sempat dihembuskan, tapi berikutnya topan badai yang
dihantamkan. Pandawa kalah besar hingga hampir tak ada lagi harta yang tersisa.
Berikutnya giliran tahta dijadikan
bahan peruntungan. Dan hasilnya, Pandawa tergeletak. Mereka harus merelakan
kerajaannya dikuasai Kurawa. Bahkan mereka pun diharuskan membuang diri ke
dalam hutan selama 12 tahun lamanya.
Mencoba meraih miliknya yang
terampas, wanita pun jadi taruhannya. Dan lagi-lagi mereka dikalahkan lantaran
kelicikan yang dilakukan para ksatria, bukan kebuasaan para raksasa.
Akibatnya, Pandawa merana. Mereka
harus membayar ketidakmampuannya mengontrol nafsu dengan hidup terasing dan
terbuang dari percaturan dunia. Dari situlah hikmah didapat. Sebuah pelajaran
dari ganasnya kehidupan.
Sejenak mereka menghilang. Tapi pada saat yang telah digariskan mereka
muncul lagi ke permukaan. Kembali menjalani hidupnya sebagaimana karma yang
ditetapkan Yang Kuasa pada mereka. ‘Yogasta Kuru Karmani’.
Sebagai ksatria, tugas mereka adalah menegakkan kebenaran di atas kebathilan.
Sebagaimana pun beratnya tugas itu, tetap harus mereka jalankan dengan penuh
tanggung jawab. Bukan kepada manusia, namun pada Sang pencipta.
Dan salah satu tugas mereka, bahkan menjadi tugas yang paling utama adalah
menghantam kecongkakan dan hegemoni wangsa Kurawa dan kroni-kroninya. Hidup
sudah menggariskan kedua wangsa itu untuk saling membunuh dan membinasakan. Walau
pada dasarnya mereka adalah saudara yang awalnya hidup berdampingan dalam satu
atap. Tapi itulah hitam putihnya kehidupan.
Persoalan yang timbul kemudian, yang saling berperang dalam perseteruan
antar anggota keluarga Wangsa Barata itu bukan hanya Pandawa versus Kurawa.
Namun pihak-pihak lain yang ada di masing-masing pihak.
Korban yang berjatuhan bukan lagi puluhan atau ratusan, namun hingga
puluhan bahkan ratusan ribu nyawa. Belum lagi istri-istri yang harus meratapi
kematian suaminya dan anak-anak yang merana ditinggal bapaknya.
Ya memang itulah korban yang harus dipersembahkan jika para raja ngotot
mengibarkan panji-panji keakuannya di hamparan padang peperangan. Rakyatlah
yang paling merasakan sakitnya.
Tapi fakta itu seakan diabaikan begitu saja. Bagi mereka sangatnya wajar
jika rakyat harus menjadi korban. Karena menurut anggapannya mereka, rakyat ada
memang untuk dikorbankan demi kepentingan para penguasa.
Tapi rakyat sekarang tak lagi bodoh. Mereka justru pintar mencari celah
dari perseteruan para raja. Kalau bisa mereka pun ikut meraih untung dalam
peperangan itu. Jadi jangan lagi bicara soal pengorbanan. Kalau memang mau
perang, perang saja sendiri!. Rakyat hanya akan jadi penonton, petaruh bahkan
bandarnya.
(Termuat di Tabloid Headline)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar