Jumat, 21 Februari 2014

JENGGALAYUDHA BUKAN BARATAYUDHA

Oleh kelicikan Sengkuni, Pandawa dijebak. Lima orang bersaudara itu diajak main dadu lawan Wangsa Kurawa. Untuk persahabatan, katanya. Namun dalam perjalanan berikutnya, mereka pun mulai memasang taruhan.
            Awalnya hanya harta yang dipertaruhkan. Angin segar sempat dihembuskan, tapi berikutnya topan badai yang dihantamkan. Pandawa kalah besar hingga hampir tak ada lagi harta yang tersisa.
            Berikutnya giliran tahta dijadikan bahan peruntungan. Dan hasilnya, Pandawa tergeletak. Mereka harus merelakan kerajaannya dikuasai Kurawa. Bahkan mereka pun diharuskan membuang diri ke dalam hutan selama 12 tahun lamanya.
            Mencoba meraih miliknya yang terampas, wanita pun jadi taruhannya. Dan lagi-lagi mereka dikalahkan lantaran kelicikan yang dilakukan para ksatria, bukan kebuasaan para raksasa.
            Akibatnya, Pandawa merana. Mereka harus membayar ketidakmampuannya mengontrol nafsu dengan hidup terasing dan terbuang dari percaturan dunia. Dari situlah hikmah didapat. Sebuah pelajaran dari ganasnya kehidupan.
Sejenak mereka menghilang. Tapi pada saat yang telah digariskan mereka muncul lagi ke permukaan. Kembali menjalani hidupnya sebagaimana karma yang ditetapkan Yang Kuasa pada mereka. ‘Yogasta Kuru Karmani’.
Sebagai ksatria, tugas mereka adalah menegakkan kebenaran di atas kebathilan. Sebagaimana pun beratnya tugas itu, tetap harus mereka jalankan dengan penuh tanggung jawab. Bukan kepada manusia, namun pada Sang pencipta.
Dan salah satu tugas mereka, bahkan menjadi tugas yang paling utama adalah menghantam kecongkakan dan hegemoni wangsa Kurawa dan kroni-kroninya. Hidup sudah menggariskan kedua wangsa itu untuk saling membunuh dan membinasakan. Walau pada dasarnya mereka adalah saudara yang awalnya hidup berdampingan dalam satu atap. Tapi itulah hitam putihnya kehidupan.
Persoalan yang timbul kemudian, yang saling berperang dalam perseteruan antar anggota keluarga Wangsa Barata itu bukan hanya Pandawa versus Kurawa. Namun pihak-pihak lain yang ada di masing-masing pihak.
Korban yang berjatuhan bukan lagi puluhan atau ratusan, namun hingga puluhan bahkan ratusan ribu nyawa. Belum lagi istri-istri yang harus meratapi kematian suaminya dan anak-anak yang merana ditinggal bapaknya.
Ya memang itulah korban yang harus dipersembahkan jika para raja ngotot mengibarkan panji-panji keakuannya di hamparan padang peperangan. Rakyatlah yang paling merasakan sakitnya.
Tapi fakta itu seakan diabaikan begitu saja. Bagi mereka sangatnya wajar jika rakyat harus menjadi korban. Karena menurut anggapannya mereka, rakyat ada memang untuk dikorbankan demi kepentingan para penguasa.
Tapi rakyat sekarang tak lagi bodoh. Mereka justru pintar mencari celah dari perseteruan para raja. Kalau bisa mereka pun ikut meraih untung dalam peperangan itu. Jadi jangan lagi bicara soal pengorbanan. Kalau memang mau perang, perang saja sendiri!. Rakyat hanya akan jadi penonton, petaruh bahkan bandarnya.
(Termuat di Tabloid Headline)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar