Forum diskusi
lintas profesi kembali dibuka di warung kopi ini. Sebagaimana namanya, peserta
yang hadir datang dari berbagai latar belakang pekerjaan. Ada yang berstatus
wartawan, pentolan LSM, tukang rombeng, PNS kawak yang hampir pensiun dan tentu
saja bakul wedang kopi.
Seperti biasanya, forum ini dibuka
dengan obrolan-obrolan berbagai topik. Diantaranya tentang TV Delta yang siarannya
disebut dengan istilah dari rakyat, oleh staf dan untuk staf.
Maksudnya bikin TV pakai uang rakyat, yang produksi staf sendiri terus
hasilnya dilihat sendiri oleh staf TV Delta sendiri. Soalnya selain kualitas
materi acaranya yang pas-pasan, daya pancarnya juga sangat terbatas sehingga
siarannya hanya bisa ditangkap di seputaran lokasi studione dewe.
Sedangkan sebagaian besar wong Darjo malah gak ngerti blas dengan
keberadaan TV Delta itu. Bahkan Bupatinya sendiri yang rumah dinasnya masuk
dalam daya pancar TV Delta itu malah sama sekali nggak pernah nyetel chanel stasiun
televisi buatannya sendiri itu.
“Gitu itu khan namanya muspro. Tiwas ngeluarkan uang miliaran buat mbandani
TV Delta tapi gak ada hasilnya blas. Daripada gitu, khan lebih baik duitnya
dipakai beli es cao biar bisa dibuat adus wong sak kabupaten,” tukas bakul
wedang sembari sibuk bikin mie godok.
Selanjutnya topik pembicaraan pun kembali ngalor-ngidul tanpa arah yang
jelas. Sampai akhirnya jagongan itu terfokus pada sambatannya salah seorang
staf dinas di lingkungan Pemkab Sidoarjo yang merasa cumak kebagian pulut.
Sedangkan nongkonya diunthal atasannya.
Maksudnya, kalau ada garapan proyek, si atasan tadi yang langsung
menanganinya. Padahal semua juga tahu, kalau hubungannya dengan proyek,
ujung-ujungnya pasti ada duitnya.
Sebaliknya jika urusannya rapat ini dan itu, si bawahan itu tadi yang
selalu disuruh menghadiri. Jadi ia selalu disuruh mikir, sedangkan upahnya
hanya jajan sak kothak plus segelas air mineral.
Gara-gara itu, si staf tadi sampek plengos-plengos jika berhadapan dengan
bosnya. Yang terjadi kemudian, dia pun selalu ngrasani atasannya tadi pada
semua orang yang ia temui. Akibatnya masalah itupun menjadi hot isu yang
menarik diperbincangkan meski hanya sebatas warung kopi thok.
“Sakjane persoalan seperti itu nggak perlu terjadi kalau dua-duanya mau
mengerti posisinya masing-masing. Artinya dalam urusan rejeki, semua sudah ada
porsinya sendiri-sendiri. Yang pangkatnya lebih rendah ya memang harus ikhlas
kebagian paku reng. Sedangkan yang jabatannya lebih tinggi sudah pasti akan
kebagian paku dudur. Itu wajar. Jadi nggak usah ngiri,” kata peserta diskusi
yang berasal dari unsur PNS.
Argumentasi itu langsung dibantah pentolan LSM yang sedari tadi sepertinya
memang sudah menyiapkan omongan. “Yo ndak bisa gitu, Pak. Saling berbagi khan
malah lebih baik. Lha kalau menang-menangan kayak gitu, namanya asu gede menang
kerah’e. Padahal yang diperebutkan hanya balung tanpo isi,” ujarnya sinis.
Lho, tiba-tiba saja wajah pak PNS mendadak bersemu merah. “Sik...sik. Yang
mbok maksud balung tanpo isi itu opo. Terus yang kamu sebut asu itu sopo?,”
katanya dengan nada tinggi.
“Yo embuh Pak. Mosok gitu aja kok perlu diterangno. Podo-podo ngertine
lah,” jawab si LSM enteng.
(Pak
Di - Termuat di Tabloid Headline)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar