Jumat, 21 Februari 2014

ASU GEDE MENANG KERAH’E

Forum diskusi lintas profesi kembali dibuka di warung kopi ini. Sebagaimana namanya, peserta yang hadir datang dari berbagai latar belakang pekerjaan. Ada yang berstatus wartawan, pentolan LSM, tukang rombeng, PNS kawak yang hampir pensiun dan tentu saja bakul wedang kopi.
            Seperti biasanya, forum ini dibuka dengan obrolan-obrolan berbagai topik. Diantaranya tentang TV Delta yang siarannya disebut dengan istilah dari rakyat, oleh staf dan untuk staf.
Maksudnya bikin TV pakai uang rakyat, yang produksi staf sendiri terus hasilnya dilihat sendiri oleh staf TV Delta sendiri. Soalnya selain kualitas materi acaranya yang pas-pasan, daya pancarnya juga sangat terbatas sehingga siarannya hanya bisa ditangkap di seputaran lokasi studione dewe.
Sedangkan sebagaian besar wong Darjo malah gak ngerti blas dengan keberadaan TV Delta itu. Bahkan Bupatinya sendiri yang rumah dinasnya masuk dalam daya pancar TV Delta itu malah sama sekali nggak pernah nyetel chanel stasiun televisi buatannya sendiri itu.
“Gitu itu khan namanya muspro. Tiwas ngeluarkan uang miliaran buat mbandani TV Delta tapi gak ada hasilnya blas. Daripada gitu, khan lebih baik duitnya dipakai beli es cao biar bisa dibuat adus wong sak kabupaten,” tukas bakul wedang sembari sibuk bikin mie godok.
Selanjutnya topik pembicaraan pun kembali ngalor-ngidul tanpa arah yang jelas. Sampai akhirnya jagongan itu terfokus pada sambatannya salah seorang staf dinas di lingkungan Pemkab Sidoarjo yang merasa cumak kebagian pulut. Sedangkan nongkonya diunthal atasannya.
Maksudnya, kalau ada garapan proyek, si atasan tadi yang langsung menanganinya. Padahal semua juga tahu, kalau hubungannya dengan proyek, ujung-ujungnya pasti ada duitnya.
Sebaliknya jika urusannya rapat ini dan itu, si bawahan itu tadi yang selalu disuruh menghadiri. Jadi ia selalu disuruh mikir, sedangkan upahnya hanya jajan sak kothak plus segelas air mineral.
Gara-gara itu, si staf tadi sampek plengos-plengos jika berhadapan dengan bosnya. Yang terjadi kemudian, dia pun selalu ngrasani atasannya tadi pada semua orang yang ia temui. Akibatnya masalah itupun menjadi hot isu yang menarik diperbincangkan meski hanya sebatas warung kopi thok.
“Sakjane persoalan seperti itu nggak perlu terjadi kalau dua-duanya mau mengerti posisinya masing-masing. Artinya dalam urusan rejeki, semua sudah ada porsinya sendiri-sendiri. Yang pangkatnya lebih rendah ya memang harus ikhlas kebagian paku reng. Sedangkan yang jabatannya lebih tinggi sudah pasti akan kebagian paku dudur. Itu wajar. Jadi nggak usah ngiri,” kata peserta diskusi yang berasal dari unsur PNS.
Argumentasi itu langsung dibantah pentolan LSM yang sedari tadi sepertinya memang sudah menyiapkan omongan. “Yo ndak bisa gitu, Pak. Saling berbagi khan malah lebih baik. Lha kalau menang-menangan kayak gitu, namanya asu gede menang kerah’e. Padahal yang diperebutkan hanya balung tanpo isi,” ujarnya sinis.
Lho, tiba-tiba saja wajah pak PNS mendadak bersemu merah. “Sik...sik. Yang mbok maksud balung tanpo isi itu opo. Terus yang kamu sebut asu itu sopo?,” katanya dengan nada tinggi.
“Yo embuh Pak. Mosok gitu aja kok perlu diterangno. Podo-podo ngertine lah,” jawab si LSM enteng.
(Pak Di - Termuat di Tabloid Headline)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar