Entah kenapa,
beberapa hari terakhir ini aku kangen buanget sama Mas Bagio. Ia kuanggap
sebagai teman ngobrol yang paling asyik. Soalnya seringkali aku mendapat
hal-hal yang baru usai jagongan dengannya.
Dan kemarin, kangenku itu sempat
terobati saat aku bertemu dengannya di warung langganan kami. Tapi sayang, ia
tak terlalu lama disana. Seperti biasa, tiba-tiba saja ia menghilang. Tanpa
pamit...lalu...mak plas gitu saja.
Karena itu siang ini aku nekat
mampir ke tempat kerjanya. Sekedar say hello, saling bertukar kabar dan siapa
tahu dapat ilmu baru dari hasil omong-omongan dengannya. Itupun kalau ketemu.
Rupanya ini hari keberuntunganku. Ia
ada di kantornya, sedang santai pula. Mataku berbinar, menyiratkan kegembiraan.
Pun demikian yang kulihat di raut mukanya. “Kluyuran nang endi ae koen kok gak
tau mampir mrene,” sergahnya begitu melihatku datang menghampirinya.
Ia pun mempersilahkan aku masuk. Dan
kalimat pertama yang terlontar selalu basa-basi. Hingga akhirnya kami ngobrol
cukup gayeng, ngrasani salah seorang teman yang menurutnya lali sangkan parane
dumadi.
Teman kami tadi memulai riwayat hidupnya
dengan runtut. Mulai dari bawah dan merangkak hingga ke tengah. Tapi dasar
rejekinya, ia bertemu orang yang tepat disana. Hasilnya, ia pun dibawa berlari
cepat menuju ke puncak tangga.
Sang teman tadi tiba-tiba jadi
second commander. Kepandaiannya membuat ia mendapat kepercayaan penuh. Dialah
sang penentu dengan cara apa kebijakan umum sang pimpinan dilaksanakan.
Disinilah awal persoalan bermula.
“Nggak kuat nyunggih derajat” begitu istilah Mas Bagio untuknya. Nafsu
serakahnya membuncah. Segala yang ada di depannya diunthal. Entah halal atau
haram.
Gaya hidupnya pun ikut-ikutan berubah seiring banyaknya tumpukan uang yang
ada di sakunya, dompetnya dan rekening bank-nya. Mulailah ia mbyak-mbyakan
nggak karu-karuan.
Tapi lama kelamaan perutnya yang tak kuat menahan beban makanan yang panas,
puedes, basin dan buosok itu. Iapun jatuh sakit. Kini tak bisa ia nikmati harta
yang telah dikumpulkannya. “Apa memang begitu konsekuensinya wong kuoso anyaran,”
tanyaku mencoba ngangsuh kaweruh padanya.
Lalu Mas Bagio bilang, katanya butuh persiapan mental dan jiwa yang membaja
sebelum memegang kekuasaan. “Asal ada kesempatan, semua orang bisa memegang
kekuasaan. Tapi ingat, tak semua orang bisa menjadi pemimpin. Ia harus siap
lahir batin sebelumnya,” tuturnya.
Apalagi jika kekuasaan yang dipegang memberikan peluang untuk mendapatkan
harta kekayaan yang berlimpah. Maka orang itu harus semakin tunduk pada Sangkan
Parane Dumadi tadi.
Kalau tidak, orang itu akan jadi wong kuoso anyaran yang berikutnya sukses
jadi wong sugih anyaran yang adigang-adigung-adiguno. “Akhirnya, iapun pasti
akan jadi wong gendeng anyaran.”
Aku mathuk-manthuk mendengarkan wejangannya itu saat ia tiba-tiba beranjak
dari tempat duduknya. “Sik yo, aku dienteni Pak Wondo nang warung ngarep.”
Kontan saja aku protes. “Pancet ae kelakuan Peno. Plung plas!”
(Termuat di Tabloid Headline)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar