Jumat, 21 Februari 2014

GENDENG ANYARAN

Entah kenapa, beberapa hari terakhir ini aku kangen buanget sama Mas Bagio. Ia kuanggap sebagai teman ngobrol yang paling asyik. Soalnya seringkali aku mendapat hal-hal yang baru usai jagongan dengannya.
            Dan kemarin, kangenku itu sempat terobati saat aku bertemu dengannya di warung langganan kami. Tapi sayang, ia tak terlalu lama disana. Seperti biasa, tiba-tiba saja ia menghilang. Tanpa pamit...lalu...mak plas gitu saja.
            Karena itu siang ini aku nekat mampir ke tempat kerjanya. Sekedar say hello, saling bertukar kabar dan siapa tahu dapat ilmu baru dari hasil omong-omongan dengannya. Itupun kalau ketemu.
            Rupanya ini hari keberuntunganku. Ia ada di kantornya, sedang santai pula. Mataku berbinar, menyiratkan kegembiraan. Pun demikian yang kulihat di raut mukanya. “Kluyuran nang endi ae koen kok gak tau mampir mrene,” sergahnya begitu melihatku datang menghampirinya.
            Ia pun mempersilahkan aku masuk. Dan kalimat pertama yang terlontar selalu basa-basi. Hingga akhirnya kami ngobrol cukup gayeng, ngrasani salah seorang teman yang menurutnya lali sangkan parane dumadi.
             Teman kami tadi memulai riwayat hidupnya dengan runtut. Mulai dari bawah dan merangkak hingga ke tengah. Tapi dasar rejekinya, ia bertemu orang yang tepat disana. Hasilnya, ia pun dibawa berlari cepat menuju ke puncak tangga.
            Sang teman tadi tiba-tiba jadi second commander. Kepandaiannya membuat ia mendapat kepercayaan penuh. Dialah sang penentu dengan cara apa kebijakan umum sang pimpinan dilaksanakan.
            Disinilah awal persoalan bermula. “Nggak kuat nyunggih derajat” begitu istilah Mas Bagio untuknya. Nafsu serakahnya membuncah. Segala yang ada di depannya diunthal. Entah halal atau haram.
Gaya hidupnya pun ikut-ikutan berubah seiring banyaknya tumpukan uang yang ada di sakunya, dompetnya dan rekening bank-nya. Mulailah ia mbyak-mbyakan nggak karu-karuan.
Tapi lama kelamaan perutnya yang tak kuat menahan beban makanan yang panas, puedes, basin dan buosok itu. Iapun jatuh sakit. Kini tak bisa ia nikmati harta yang telah dikumpulkannya. “Apa memang begitu konsekuensinya wong kuoso anyaran,” tanyaku mencoba ngangsuh kaweruh padanya.
Lalu Mas Bagio bilang, katanya butuh persiapan mental dan jiwa yang membaja sebelum memegang kekuasaan. “Asal ada kesempatan, semua orang bisa memegang kekuasaan. Tapi ingat, tak semua orang bisa menjadi pemimpin. Ia harus siap lahir batin sebelumnya,” tuturnya.
Apalagi jika kekuasaan yang dipegang memberikan peluang untuk mendapatkan harta kekayaan yang berlimpah. Maka orang itu harus semakin tunduk pada Sangkan Parane Dumadi tadi.
Kalau tidak, orang itu akan jadi wong kuoso anyaran yang berikutnya sukses jadi wong sugih anyaran yang adigang-adigung-adiguno. “Akhirnya, iapun pasti akan jadi wong gendeng anyaran.”
Aku mathuk-manthuk mendengarkan wejangannya itu saat ia tiba-tiba beranjak dari tempat duduknya. “Sik yo, aku dienteni Pak Wondo nang warung ngarep.” Kontan saja aku protes. “Pancet ae kelakuan Peno. Plung plas!”

(Termuat di Tabloid Headline)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar